Merapi Volcano Tour : Mengubah Musibah Menjadi Wisata
Kita mungkin masih ingat dengan musibah erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada medio akhir bulan Oktober 2010. Erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010 ini berbeda dengan erupsi pada tahun 2006. Erupsi pada tahun 2010 tersebut dikatakan ahli vulkanologi pada waktu itu menyerupai erupsi yang terjadi pada tahun 1872 dimana erupsi terjadi selama hampir 120 jam tanpa henti. Radius bahaya pada erupsi tahun 2010 tersebut juga telah ditingkatkan menjadi 20 Km dari puncak Merapi dimana biasanya radius bahaya erupsi hanya 10 Km dari puncak. Erupsi Merapi pada tahun 2010 juga sempat mengakibatkan penerbangan di Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta sempat terganggu karena abu vulkanik Merapi sampai di Kota Yogyakarta. Saat erupsi tersebut dapat dibayangkan bagaimana paniknya warga di sekitar lereng Merapi dan warga Yogyakarta karena abu vulkanik hasil erupsi Merapi sempat menutupi langit Yogyakarta selama beberapa hari. Korban tewas akibat Wedus Gembel –Awan Panas- erupsi Merapi mencapai ratusan orang, termasuk Juru Kunci Gunung Merapi yang kita kenal dengan nama Mbah Maridjan juga ikut menjadi korban erupsi Merapi tersebut. Kerusakan yang diakibatkan erupsi tersebut juga sangat parah terutama disekitar aliran sungai yang dilalui aliran awan panas Merapi seperti di Desa Kinarejo tempat alm. Mbah Maridjan tinggal. Lalu bagaimana kabar warga dan desa-desa yang sempat tersapu erupsi Merapi tersebut? Berikut akan coba penulis ceritakan saat 31 Agustus 2011 kemarin sempat berkunjung ke Desa Kinarejo tempat alm Mbah Maridjan dulu tinggal.
Kinarejo sebuah desa yang dulunya asri terletak sekitar 30Km dari Pusat Kota Yogyakarta. Perjalanan menuju sana akan sedikit terkendala jika kita tidak mempunyai kendaraan pribadi. Angkutan pedesaan hanya menuju Hutan Wisata Kaliurang yang rutenya berbeda dengan rute ke Desa Kinarejo. Perjalanan menuju Desa Kinarejo aku masih dapat melihat sisa-sisa keganasan erupsi Merapi satu tahun yang lalu. Puing-puing sisa bangunan masih terlihat. Sisa-sisa abu vulkanik yang menempel di dedaunan dan jalanan juga masih ada. Ketika akan memasuki wilayah dengan gapura yang terdapat spanduk “Selamat Datang di Desa Kinahrejo, Kawasan Volcano Tour Merapi”. Ya, masyarakat disana sudah tidak mau lagi larut dalam kesedihan bencana tersebut. Mereka mengubah bencana tersebut menjadi sumber pencaharian baru. Masyarakat disana paham betul bahwa banyak warga yang akan tertarik melihat sisa-sisa keganasan letusan merapi yang dahulu hanya bisa disaksikan dari layar televisi. Wisatawan disediakan tempat parkir kendaraan bermotor yang cukup luas. Spot utama yang dituju adalah Rumah Mbah Maridjan. Untuk sampai kesana, wisatawan dapat menyewa motor seharga 50 ribu/jam atau minta diantarkan langsung oleh warga setempat, bagi yang ingin menikmati suasana sambil berjalan kaki juga diperbolehkan tapi rute yang dihadapi sedikit menanjak J atau yang ingin mencoba motor trail juga disediakan oleh warga setempat.
Lalu apa yang dijual dari tempat tersebut? Sisa-sisa abu letusan Gunung Merapi? Ya mungkin itulah jualan utama dari wisata ini. Kita akan disuguhkan lautan pasir vulkanik sisa erupsi Merapi di hampir seluruh Desa Kinarejo. Wisatawan akan melihat secara langsung bagaimana kondisi terkini pasca erupsi. Bahkan wisatawan pun dapat membayangkan bagaimana situasi di sana saat erupsi terjadi hanya dengan melihat sisa-sisanya. Lalu apa lagi yang bisa wisatawan lihat? Sudah tentu adalah lokasi rumah Alm Mbah Maridjan. Ya, Juru Kunci Merapi ini tentu sudah menjadi ikon dari Gunung Merapi. Saat masih hidup banyak orang, terutama pendaki gunung, mendatangi rumahnya. Saat beliau telah tiada pun kharisma nya tetap ada. Wisatawan akan menanyakan terlebih dahulu dimana lokasi terakhir Alm Mbah Maridjan saat erupsi itu terjadi. Di sekitar rumah (yang sekarang tidak ada lagi bekasnya) Alm. Mbah Maridjan saati ini, Wisatawan dapat melihat spanduk yang cukup besar yang menceritakan bagaimana rentetan kejadian erupsi Gunung Merapi sampai dengan meninggalnya Mbah Maridjan. Selain itu di lokasi terakhir Mbah Maridjan meninggal saat ini ditaruh batu sebagai prasasti bahwa disitulah bekas rumah Mbah Maridjan dan posisi terakhir Mbah Maridjan saat meninggal.
Untuk yang telah berkunjung ke sana, tidak perlu khawatir pulang dengan tangan kosong. Masyarakat Yogyakarta dikenal dengan kreatifitas dan ide-idenya. Berbagai macam souvenir mulai dari kaos, mug, sampai dengan dvd rangkuman peristiwa erupsi Merapi dijual untuk cinderamata pengunjung. Itulah ciri khas masyarakat Yogyakarta, mereka mampu dengan cepat bangkit dari keterpurukan dan mengubah bencana menjadi sebuah wisata yang menarik. Tulisan ini aku selesaikan tanggal 7 November 2011 disela-sela rutinitas kerjaan. Entah apakah Merapi Volcano Tour ini masih ada saat ini. Nampaknya Desa Kinarejo saat ini sudah kembali hijau walau masih banyak rumah-rumah yang belum kembali terbangun. Melalui artikel ini juga aku menyampaikan agar kita terus mendoakan mereka yang meninggal saat erupsi Merapi terjadi dan mendoakan bahwa tidak terdapat bencana susulan yang hebat mengingat saat ini masih mengintai bahaya banjir lahar dingin terutama saat hujan dengan intensitas lama terjadi di Puncak Merapi.
This slideshow requires JavaScript.















Tour Volcano ini masih ada , terakhir sya dateng tanggal 27 Des 2011.
Desember 28, 2011 pukul 7:57 pm
Tour Volcano memang jadi daya tarik wisata saat ini di Sleman
Desember 31, 2011 pukul 8:30 pm