Mereka (Bukan) Laskar Islam
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam. Dibulan ini semua umat Islam yg beriman diwajibkan berpuasa. Di bulan ini juga Allah pertama kali menurunkan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Di bulan ini kita sebagai umat Islam tidak hanya diperintahkan untuk tidak makan dan minum tapi juga diperintahkan untuk menahan hawa nafsu kita. Kita juga dilatih untuk bersikap toleran.
Namun apa yang terjadi dibeberapa tempat pada bulan Ramadhan ini?? Kita masih melihat berita di televisi masih ada kelompok warga yang tawuran, masih saja ada berita kriminal bahkan yang paling menyedihkan ada sekelompok orang yang mengaku Pembela Islam merusak tempat makan yang buka pada siang hari. Citra kelompok ini apakah mencerminkan Islam itu sendiri?
Seringkah kita mendengar satu ormas yg menyebut dirinya Pembela Islam?? Tentu kita sudah sering mendengarnya bukan. Jika kita baru tahu kelompok ini dan belum melihat rekam jejaknya tentu kita berpikiran bahwa kelompok ini merupakan kelompok yang akan menegakan syariat Islam dengan benar yaitu Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Namun kenyataannya sungguh bertolak 180 derajat. Kelompok ini malah kerap kita dengar sering berbuat rusuh dan anarkis menatasnamakan Islam. Apa sih yang mereka lakukan? Beberapa kasus yang mungkin pernah kita dengar adalah pengrusakan markas Ahmadiyah, tindak anarkis saat massa Kerukunan Umat Beragama berorasi di Monas beberapa tahun lalu dan yang baru-baru terjadi (dan kerap terjadi) adalah aksi sweeping atas tempat hiburan malam dan warung makan yang buka pada Bulan Ramadhan. Ok, saya hanya akan membahas kasus terakhir.
Saya bukan seorang yang ahli agama. Saya juga bukan orang yang terlalu paham tafsir Al-Quran. Tapi melihat apa yang dilakukan kelompok Pembela Islam saat merusak warung makan yang buka pada siang hari d bulan ramadhan di makassar dan beberapa tempat lainnya beberapa waktu lalu sungguh tidak mencerminkan Islam itu sendiri. Mereka berdalih bahwa warung makan tersebut tidak menghormati umat Islam yang sedang berpuasa. Tapi mereka lupa bahwa Negara Republik Indonesia merupakan negara multi agama, bukan Negara Islam. Masih ada rekan-rekan kita yang berlainan agama yang tidak berpuasa. Selain itu juga ada rekan-rekan muslim yang sedang berhalangan berpuasa seperti wanita hamil, wanita yang sedang menyusui, wanita yang sedang menstruasi dan orang yang sedang sakit.
Kelompok ini sendiri berdalih bahwa mereka hanya akan mengingatkan. Tapi dari pemberitaan yang ada, massa dari kelompok tersebut sudah siap dengan bambu dan langsung merusak tempat makan tersebut. Saya tidak tahu mana yang benar, versi kelompok Pembela Islam ini atau versi media. Tapi yang pasti, aksi sweeping dan pengrusakan oleh kelompok tersebut tidak dapat dibenarkan. Dengan menyuruh semua tempat makan tutup di bulan Ramadhan pada siang hari tentu saja akan membuat roda perekonomian beberapa orang yang bergantung pada usaha tersebut akan berhenti. Lalu kalau warung makan tersebut tutup, dimana rekan-rekan kita non Muslim dan rekan-rekan Muslim yang tidak berpuasa akan makan? Namun ada satu hal yang menggelitik saya dengan aksi sweeping kelompok ini. Mengapa hanya warung-warung makan kecil pinggir jalan yang disweeping dan dirusak? Pernahkah kita mendengar kelompok ini berdemo untuk meminta restoran-restoran di mall untuk tutup? Atau meminta restoran besar diluar mall untuk tutup selama bulan Ramadhan? Lalu saat di Jogja sekarang, ada banyak warung makan mahasiswa serta angkringan yang tetap buka siang hari tetapi tidak ada aksi dari kelompok ini? Adakah yang punya jawabannya?
Urusan ibadah merupakan urusan pribadi dengan Allah. Tidak ada satupun orang yang berhak menilai apakah ibadah kita diterima atau tidak oleh Allah SWT. Allah hanya memerintahkan kita beribadah semaksimal dan sekhusyuk mungkin. Selain itu Allah melalui Rasulullah juga mengajarkan untuk saling menghormati antar umat beragama. Seingat saya, Rasulullah selalu menghormati umat yang beragama berbeda dengan Beliau selama umat tersebut tidak membahayakan, tidak membuat permusuhan dan tidak memaksakan aqidahnya kepada umat Islam. Rasulullah juga sepengetahuan saya pernah mengunjungi orang yang sedang sakit padahal orang tersebut sering menghina dan mendzalimi Rasulullah. Itulah wujud sikap toleransi Rasulullah sebagai panutan umat Islam terhadap perbedaan agama. Lalu apa yang dilakukan sekelompok ormas yang mengaku Pembela Islam itu mencerminkan Islam itu sendiri?? Apakah mereka berhak menyebut diri mereka Pembela Islam?? Silahkan pembaca nilai sendiri
Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan atau menjelek-jelekan sekelompok orang namun lebih untuk mengkritisi kejadian yang ada di masyarakat.
















Sepakat Mas. Dunia akan selalu perang dengan orang orang macam ini.
Februari 13, 2012 pada 9:54 am