KETIKA TRANS MUSI MASIH SETENGAH HATI

Palembang akhirnya memiliki moda transportasi baru. Setelah sempat 2 kali tertunda peluncurannya (Desember 2009 dan Januari 2010), akhirnya Trans Musi resmi di launching. Mass Rapid Transport (MRT) ini direncanakan akan menggantikan bus kota yang sudah lama beredar di Palembang yang telah banyak dikeluhkan masyarakat.

Sempat terbesit niatan untuk mencoba Trans Musi waktu liburan kemarin. Namun apa mau dikata, niat itu berubah seiring lamanya menanti moda transportasi baru ini. Walau tidak sempat mencicipi calon primadona baru transportasi Kota Palembang ini, penulis tetap akan mengulas sedikit tentang Trans Musi.

Sempat blogwalking ke beberapa blog teman (riavenclaw, Huang, vira @ epal) yang sudah mencicipi Trans Musi, sebagian besar dari mereka mengapresiasi dan member kesan positif dengan kehadiran Trans Musi. Mereka merasa Trans Musi lebih baik disbanding bis kota yang selama ini biasa mereka naiki. Hanya dengan merogoh kocek RP 3.000,- (Rp 800,- lebih malah dari ongkos bis kota) kita sudah berada di dalam bis dengan AC serta tidak ada lagi music yang berdentum keras ga’ jelas.

Dibalik kesan positif, Trans Musi juga masih menyisakan kekurangan. Dari hasil berkeliling Kota Palembang, penulis mencatat beberapa kekurangan Trans Musi yang bisa menjadi perhatian instansi terkait.

1)   Waktu tunggu / jarak antar bis Trans Musi masih lama. Waktu mau nyoba kemarin, jarak antar bis lebih dari 20 menit. Bahkan karena lamanya menunggu bis Trans Musi, ada calon penumpang yang akhirnya naik bis kota. Jeda antar bis Trans Musi yang ideal tidak lebih dari 10-15 menit. Keterbatasan jumlah armada plus ramainya arus lalu-lintas di koridor Trans Musi untuk sementara masih bisa diterima sebagai alasan. Tapi hendaknya, ke depan hal ini bisa diminimalisir.

2)   Shelter Trans Musi yang terkesan dibangun tidak memiliki standar. Beberapa kali berkeliling Palembang, penulis melihat shelter-shelter Trans Musi dibangun seperti tidak ada standarnya. Beberapa shelter dibangun tertutup. Namun beberapa shelter lainnya dibangun layaknya halte bis kota pada umumnya, hanya shelter Trans Musi lebih tinggi. Shelter yang tidak sepenuhnya tertutup dapat menyebabkan pengguna Trans Musi tidak nyaman (karena tidak sepenuhny terlindung dari hujan) serta dapat membuat shelter lebih tidak terawat (karena masyarakat bisa bebas keluar masuk terutama pada malam hari).

3)   Tidak adanya petugas di shelter Trans Musi. Hal ini mengakibatkan masyarakat kesulitan untuk mencari informasi rute perjalanan Trans Musi. Seharusnya minimal ada 1 orang petugas di setiap shelter. Petugas yang ada di shelter juga berfungsi untuk menjual tiket kepada penumpang.

4)   Sistem pembayaran ongkos masih layaknya bisa kota. Indikasi ini bias diliat dari tidak adanya petugas di shelter Trans Musi. Hal ini juga bias mengakibatkan masyarakat bisa bebas keluar masuk shelter Trans Musi. Bahkan menggunakannya sebagai tempat berteduh kalau lagi hujan. Memang Trans Musi belum memakai e-ticket (sedang dalam tahap pengembangan), namun setidaknya penjualan tiket Trans Musi sudah dilakukan di dalam shelter. Ini juga untuk meminimalisir penyalahgunaan pemanfaatan shelter.

5)   Masih belum sterilnya lokasi shelter Trans Musi. Dari hasil pengamatan selama sekitar 20 menit disalah satu shelter Trans Musi yang terletak di Jalan Jend Sudirman (dibawah jembatan penyeberangan dekat Pusat Pelatihan Satpam Tangkas), terjadi ketidaksterilan lokasi shelter. Masih banyak bis kota dan angkutan umum lainnya yang berhenti di depan shelter, mobil pribadi yang menurunkan penumpang, warga masyarakat yang menunggu angkutan umum di depan shelter, bahkan ada yang memperbaiki rantai motornya di depan shelter Trans Musi. Hal ini jelas akan menghambat pergerakan bis Trans Musi.

6)   Lokasi shelter Trans Musi yang tidak berada pada lokasi strategis. Dari pengamatan sekilas, beberapa shelter Trans Musi tidak berada pada lokasi yang strategis, malah cenderung pada lokasi yang sepi seperti di Jalan H. Burlian yang ke arah Bandara SMB II. Sedangkan di lokasi seperti Pasar KM 5 atau di sekitar RS Charitas dan Palcomtech di Jalan Basuki Rahmat tidak terdapat shelter Trans Musi. Padahal lokasi-lokasi tersebut merupakan simpul kegiatan warga. Pasar KM 5 merupakan salah satu pasar yang ramai, lokasi RS Charitas merupakan simpul perpindahan antar moda karena disana melintas jalur mobil Lemabang, Sekip dan hampir semua rute bis kota, dan Palcomtech Basuki Rahmat merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki banyak siswa (memang ada shelter Trans Musi di Jalan Basuki Rahmat, namun lokasinya jauh dari kampus Palcomtech).

Memang Trans Musi masih dalam tahap uji coba dan baru saja di launching. Jika Trans Musi memang diproyeksikan untuk menggantikan bis kota yang sudah ada selama ini, maka instansi terkait harus segera mulai melakukan pembenahan sehingga Trans Musi dapat lebih dicintai dan menjadi primadona transportasi di Kota Palembang. Maju terus Trans Musi. Maju terus Kota Palembang.

6 Tanggapan

  1. Analisis yang tajam tentang Trans Musi ini kak. Tapi ralat kak, saya belum pernah coba TransMusi, yang saya tulis itu hanya pandangan sekilas saja.
    Untuk masalah ticketing memang perlu ada yang menjaga per masing-masing pos shuttle, tapi kemungkinan ini ada di otak pemerintahan, adanya penambahan ini tentu akan mengurangin pendapatan yang akan masuk ke dalam kantong mereka. Soalnya mereka akan menambah jumlah tenaga kerja.

    Ada cerita lucu dari teman saya waktu penggunaan Trans Musi ini, dia cerita kalau ada kakak-adik yang juga naik kemudian si adik ini mengeluarkan tiket yang diberikan saat launching TransMusi, saat itu petugas bingung kenapa dia bisa dapat tiket padahal belum bayar. Sepintas lucu, tapi hal ini nggak akan terjadi kalau sudah punya standarisasi mengenai pembayaran seperti layaknya penggunaan busway di ibukota.

    Kalau soal pembangunan yang tidak terstandarisasi itu saya benarkan, memang belum sepenuhnya rampung. Contohnya shuttle yang di depan RSUM saja masih bolong tanpa kaca.

    Maret 8, 2010 pada 11:00 pm

  2. bener bgt, bayarnya masih sama kayak bus kota. kita naik trans musi, bayar didalam nanti baru dikasih karcis, harusnya kan ada karcis dulu baru bisa naik. beberapa shelter ada yg tidak menyediakan tempat duduk. selain itu, tidak jarang juga shelter dijadikan sebagai tempat berteduh saat hujan.

    nunggunya lama itu memang karena armada bus yang masih sedikit. tp tergantung faktor luck juga sih, seperti saya kemarin, begitu nyampe halte busnya sudah ada, jadi tinggal naik tanpa harus nunggu lama, wekekekek.

    Maret 9, 2010 pada 1:47 am

  3. mampir ah … selepas acara amprokan blogger 2010 lalu jalan jalan ke palembang, waktu nunggu bis ke km 12, dikasih saran sama tukang becak “naik bus way bae” … bus way bathin, tidak percaya ! ternyata palembang sudah semakin maju ! Love You Palembang …

    Maret 25, 2010 pada 7:21 pm

  4. mampir ah … selepas acara amprokan blogger 2010 lalu jalan jalan ke palembang, waktu nunggu bis ke km 12, dikasih saran sama tukang becak “naik bus way bae” … bus way bathinku, tidak percaya ! ternyata palembang sudah semakin maju ! Love You Palembang …

    Maret 25, 2010 pada 7:23 pm

    • ganangprakoso

      thenk you dah mampir.. gek aku bales mamper ke blog kau

      Maret 31, 2010 pada 12:29 pm

  5. menyongsong datangnya bulan Romadhon, mari kita mempersiapkan diri untuk hati yang lebih bersih dan rasa saling menghormati. mohon maaf kalau komentar ini sekedar menyapa, tidak sesuai dengan isi postingan 11:57

    Agustus 10, 2010 pada 7:05 pm

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.