Blok S, Blok M, Blok J. Kemana Tujuan Anda?
Setelah pemilu legislatif kita lalui dan hasil perolehan suara kursi DPR pun sudah keluar. Kini saatnya kita menginjak satu babak baru, Pemilihan Presiden. Pendaftaran calon presiden telah ditutup dan KPU telah meresmikan 3 pasangan calon yang akan bertarung pada pemilihan presiden langsung nanti. Ketiga pasangan calon itu adalah SBY-Budiono, JK-Wiranto, Mega-Prabowo.
SBY (mungkin beserta JK) sebagai calon incumben yang masih memerintah merupakan calon yang disebut-sebut memiliki kans menang yang tinggi. Berdasarkan hasil survey memang popularitas SBY masih yang tertinggi dibanding 2 pasangan calon lainnya. Lalu bagaimana kans SBY ketika berpasangan dengan Budiono? SBY ketika akan memilih pasangannya sempat mendapatkan banyak pilihan cawapres terutama dari partai-partai yang berkoalisi dengan Demokrat. Beberapa cawapres yang sempat disebut-sebut akan mendampingi SBY (sebelum SBY memilih Budiono) antara lain Akbar Tanjung (yang merupakan kader Golkar, yang memiliki capres sendiri), Hidayat Nur Wahid (dari PKS), Hatta Radjasa dan SB (dari PAN). Tapi toh SBY tetap memilih Budiono untuk mendampinginya nanti. Setelah memilih pun masih terdapat hambatan. SBY dan Partai Demokrat pun harus kembali berjuang menjelaskan alasan pemilihan Budiono kepada partai koalisinya, terutama PKS dan PAN yang disebut-sebut pernah tidak setuju dengan pilihan SBY. Budiono pun bukan tanpa kritikan. Saat terpilih sebagai cawapres SBY, mulailah muncul isu bahwa Budiono merupakan penganut paham Neo-Liberalisme yang akan merusak Indonesia dengan bergantung pada kekuatan pasar bebas. Menurut saya penyebar isu merupakan orang yang Bodoh. Mengapa? Kenapa mereka baru menyebarkan isu itu ketika Budiono menjadi cawapres SBY. Mengapa mereka tidak mengeluarkan isu itu ketika Budiono dipilih menjadi Menko Ekuin atau Gubernur BI. Ketika menjabat 2 jabatan penting itu, Budiono sangat lancar mendapatkannya. Kita lihat saja kebenaran isu tersebut.
Pasangan kedua merupakan JK-Wiranto. Setelah mendeklarasikan bercerai dengan Partai Demokrat, Partai Golkar langsung mengusung JK sebagai capres. Dengan semboyan Lebih Cepat, Lebih Baik, Golkar mengharapkan kemenangan pada pileg lalu. Namun kenyataannya perolehan suara golkar malah terjun bebas. Itu sempat menimbulkan intrik di intern partai dimana ada sebagian elit partai yang menginginkan Golkar rujuk dengan Demokrat dan kembali mengusung JK sebagai cawapres SBY. Sempat terjadi usaha untuk rujuk namun ternyata gagal hanya karena Golkar tetap teguh untuk cuma mengajukan JK sebagai wakil sedangkan PD menginginkan ada alternatif lain. Setelah usaha rujuk gagal, Golkar mulai mendekati partai lain terutama PDIP. Dengan PDIP malah sempat ada kontrak politik antara JK dan Mega. Malah sempat beredar isu akan ada koalisi Golden Triangle antara Golkar, PDIP dan PPP. Namun toh itu pun gagal terwujud. Pembicaraan yang alot antara partai itu dengan sikap teguh untuk mengusung capres masing-masing (terutama Golkar dan PDIP) membuat Golden Triangle pun gagal. Golkar akhirnya merangkul Hanura dan Wiranto sebagai pasangan koalisi. Wiranto sendiri bukan orang baru di Golkar. Pada Pilpres 2004, Wiranto merupakan capres dari Golkar. Sungguh suatu hal yang aneh ketika mereka kembali. Bukankah Wiranto membentuk Hanura karena tidak sepaham dengan sikap politik Golkar. Lalu kenapa sekarang Wiranto malah rujuk dan menjadi cawapres JK. Bukankah Wiranto juga sangat ngotot untuk maju menjadi capres. Silahkan dipikir sendiri.
Pasangan terakhir adalah Mega-Prabowo. Ini merupakan pasangan yang teralot dalam menentukan arah koalisi. Kedua nama ini masing-masing sangat teguh untuk menjadi capres. Mega sebagai mantan presiden sangat menginginkan kembali untuk menjadi presiden, apalagi setelah dirinya dikalahkan oleh SBY pada pilpres 2004 lalu. Saat pileg pun Mega dan PDIP mulai banyak menyerang kebijakan pemerintah yang dipimpin SBY dan PD. Tentu kita masih ingat bagaimana Mega menyebut pemerintah SBY seperti permainan yoyo atau senam poco-poco. Lalu ketika Mega menyebut program BLT tidak mendidik dan merendahkan harga diri warga, namun pada akhirnya PDIP secara tidak langsung malah mendukung program BLT dengan iklannya yang mengatakan bahwa PDIP berhasil mengawal pembagian BLT. Sungguh sebuah blunder politik. Lalu Prabowo, sama seperti Mega, sosok Prabowo juga merupakan tokoh yang sangat teguh menentang kebijakan SBY. Dengan iklannya yang menentang stimulus ekonomi pemerintahan SBY, Prabowo dan Gerindra menunjukkan bahwa mereka sangat pro rakyat. Ketika akan berkoalisi dengan PDIP pun Prabowo meminta jatah urusan ekonomi menjadi wewenang penuh dari tim ekonomi Prabowo. Hal ini sempat membuat alot pembicaraan, termasuk sikap teguh Prabowo untuk menjadi capres. Sempat muncul isu bahwa Prabowo akan dipasangkan dengan Puan Maharani (anak Mega) sebagai Capres dan Cawapres dengan Mega sebagai Penasihat Presiden. Tapi toh akhirnya Mega-Prabowo akhirnya jadi juga.
Lalu siapa yang akan anda pilih? Silahkan anda cermati tokoh-tokoh yang akan maju bertarung ini. Jangan hanya melihat bahwa tokoh tersebut memiliki semboyan yang Pro Rakyat. Itu semua merupakan hal klasik. Semua pasangan pasti akan Pro Rakyat ketika kampanye. Tapi setelah memerintah? Lihatlah platform yang diberikan oleh pasangan capres-cawapres, juga visi-misinya. Boleh juga kita melihat partai-partai yang mengusung pasangan capres-cawapres tersebut. Ini penting karena Presiden-Wakil Presiden saat memimpin nanti haruslah didukung penuh dengan kekuatan politik yang ada di Senayan. Mengutip lagu group band Cokelat ‘5 Menit untuk 5 Tahun’, “Ayo semua kita memilih,,,, Yang terbaik untuk negeri ini,,, 5 menit kita memilih 5 tahun kan kita jalani,,,, jangan hanya menjadi putih,,, suara kita sangat berarti,,, memilihlah untuk Indonesia”. Masih banyak waktu untuk kita mencermati visi misi pasangan capres-cawapres. Pilihlah yang terbaik untuk Indonesia.
















Pesan & Kesan