Kembali Pulang Palembang #4 SMB II International Airport, Pintu Gerbang Palembang Tanpa Cita Rasa Palembang

Bagian keempat dari edisi kembali pulang Palembang ini akan membahas mengenai Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) di Kota Palembang. Selamat membaca :)

 

Palembang akhirnya memiliki bandara internasional. Sungguh perasaan yang membanggakan mengingat Palembang akan mengubah citranya menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia. Setelah sebelumnya tetap menggunakan bandara lama, Pemprov SumSel dan Pemkot Palembang mulai merintis pembangunan bandara baru untuk mendukung kenaikan status Bandara SMB II. Bandara baru (yang lokasinya tidak terlalu jauh dari bandara lama) akhirnya telah selesai dibangun dan telah beroperasi.

 

Kesan bandara modern bertaraf internasional sangat terasa. Desain arsitektur modern layaknya bandara internasional di luar negeri sangat terlihat. Namun nampaknya Pemprov SumSel dan Pemkot Palembang melupakan hal yang penting, Cita Rasa Palembang. Sebagai entry point Palembang dan SumSel, seharusnya Bandara SMB II lebih menunjukkan cita rasa Palembang dan SumSel secara keseluruhan, setidaknya dengan ornamen-ornamennya. Tidak ada kesan mendalam saat aku tiba di bandara ini. Kesannya hanya aku berada di bandara tanpa tau bandara mana jika tidak mendengar pengumuman dari pramugari atau melihat papan petunjuk.

 

Palembang secara khusus dan SumSel secara umum memiliki berbagai macam kreasi tradisional mulai dari ukir-ukiran sampai pada kain songketnya. Namun kenapa hal itu tidak ditonjolkan di bandara ini? Bukankah Palembang memiliki atap rumah limas dengan ukirannya yang sangat indah. Tapi kenapa tidak ada satupun bangunan yang memiliki unsur itu? Menciptakan bandara modern dengan arsitektur megah memang penting, tapi unsur tradisional hendaknya janganlah dilupakan. Sebenarnya ada banyak cara untuk menampilkan unsur tradisional khas SumSel. Taman-taman yang terbangun mulai dari simpang 3 bandara dean jalan menuju (calon) pelabuhan Tanjung Api-Api yang sudah tertata dengan sangat baik bisa ditambah dengan lampu-lampu hias bernuansa khas SumSel seperti di BKB atau membuat patung rimau (maskot PON SumSel), hal serupa juga bisa diterapkan ditempat parkir; penambahan atap limas khas SumSel disalah satu bangunan bandara atau minimal di atas loket penjualan tiket atau minimal hiasan serupa; penambahan wallpaper yang berciri SumSel seperti hiasan dari kain songket, gambar mengenai objek wisata di SumSel, gambaran situasi Kerajaan Sriwijaya atau Kesultanan Palembang yang termasyur; serta menambaah toko souvenir kerajinan khas SumSel karena yang aku lihat Cuma ada toko pempek aja yang banyak, padahal masih banyak lagi kerajinan tradisional SumSel lai yang dapat dijual seperti baju atau kemeja dari kain songket, t-shirt bergambar objek wisata Palembang, atau yang lain.

 

Semoga kedepannya Pemprov SumSel, Pemkot Palembang, dan pengelola bandara menambahkan unsur-unsur tradisional di bandara SMB II. Sehingga para pengunjung baik itu warga asli Palembang yang kembali pulang ataupun wisatawan terutama wisatawan asing yang datang benar-benar merasa telah sampai di SumSel begitu pertama kali menjejakkan kaki di Bumi Sriwijaya. Semoga saja.

 

NB: mohon maaf karena satu dan lain hal, jeda antara jilid 3 dan jilid 4 dari edisi ini sangat jauh :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.