Kembali Pulang Palembang #3 The BKB (Benteng Kuto Besak), Wisata Tepian Musi

Ini adalah edisi ketiga dari hasil pengamatan di Kota Palembang. Jika pada edisi pertama dibahas tentang pedestrian dan edisi kedua tentang sistem transportasi, maka edisi ketiga ini akan membahas salah satu kawasan wisata menarik di Palembang. Kawasan wisata yang akan dibahas adalah BKB alias Benteng Kuto Besak. Selamat membaca :)

BKB atau Benteng Kuto Besak. Aku ga’ terlalu memahami tentang asal-usul dari BKB (dan belum sempat mencari referensinya). Namun yang aku tahu, BKB adalah benteng pertahanan dari Kesultanan Palembang Darussalam yang merupakan kesultanan besar di Palembang pada masanya (selain Kerajaan Sriwijaya yang masyur itu). Jika dulu kawasan BKB tidak diperhatikan oleh pemerintah apalagi oleh warga Palembang, namun tidak terjadi pada 3 tahun belakangan ini. Sejak sekitar 3 tahun (atau mungkin 4 tahun lalu, aku lupa pastinya), kawasan BKB mulai diperbaiki guna menunjang pariwisata Kota Palembang. Dengan mengusung tema kawasan wisata tepian Sungai Musi, Pemerintah Kota Palembang mulai menata kawasan ini. Aku pun sempat melihat buku rencana revitalisasi penataan kawasan BKB yang dibuat oleh dosen arsitektur dan tata kota UGM saat kuliah dahulu, tapi ga’ tau apa konsep yang aku lihat itu merupakan konsep yang dipakai saat ini. Tapi yang pasti saat ini kawasan BKB telah menjadi salah satu landmark (identitas) baru Kota Palembang selain Jembatan Ampera.

Konsep yang diusung Pemkot Palembang dengan menjadikan BKB sebagai kawasan wisata tepian Sungai Musi merupakan konsep yang sangat bagus. Dengan mengkombinasikan antara sisi historis dengan keberadaan Sungai Musi seharunya menjadikan kawasan ini menarik untuk dikunjungi. Namun apa yang terjadi? Saat aku mengunjungi kawasan ini, kesan yang sangat jauh dari ekspektasi yang selama ini aku inginkan. BKB yang aku bayangkan akan terdapat beberapa ikon baru sebagai penunjang kawasan ternyata tidak ditemukan. Kesan yang aku rasa adalah aku berada di lapangan yang luas tanpa pembatas apapun. Hal berbeda jika aku bandingkan dengan Kawasan Tepian Sungai Mahakam di Samarinda (kebetulan aku membantu membuatkan peta untuk skripsi temen kuliahku jadi sedikit ada gambaran pembanding 2 kawasan tepian sungai ini). Jika di Samarinda, pemerintah kotanya membangun beberapa bangunan sebagai penunjang seperti patung lumba-lumba, gazibu-gazibu, tempat berjualan, dll, maka hal itu tidak aku temukan di BKB. Padahal hal-hal kecil seperti itu dapat menarik perhatian pengunjung. Memang ada kolam air mancur di BKB namun itupun sudah tidak berfungsi lagi.

Keberadaan BKB yang dekat dengan landmark Kota Palembang yaitu Jembatan Ampera serta beberapa bangunan bersejarah dan objek wisata lainnya sudah seharusnya menjadikan BKB sebagai penghubung dari semua objek wisata itu. Keberadaan Masjid Agung Palembang, Museum Sultan Mahmud Badarudin II, Kantor Ledeng (sekarang menjadi Kantor Walikota), Monumen Pancasila, serta kawasan kota lama menjadikan BKB sebagai lokasi yang strategis. Dengan menyatukan semua objek wisata itu menjadi satu kesatuan kawasan wisata historis tentu akan menambah daya tarik dari Kota Palembang. Apalagi jika ditambah dengan pembangunan beberapa sarana pendukung dan ikon baru di sekitarnya maka akan menjadi satu konsep wisata yang menarik. Belum lagi jika memasukan Pulo Kemaro dan kawasan industri kerajinan tradisional ke dalam konsep kawasan wisata historis ini, tentu akan semakin beragam lagi.

Kawasan BKB sebenarnya telah cukup baik jika dilihat dari sisi konsep. Implementasi dari konsep dengan beberapa fasilitasnya saat ini dirasa telah cukup baik. Namun masih diperlukan beberapa pembenahan dan penambahan fasilitas pendukung sehingga kawasan ini menjadi lebih hidup lagi. Beberapa saran penataan yang mungkin dapat menjadi pertimbangan antara lain:

  1. Membangun ikon-ikon baru di BKB sehingga BKB tidak terkesan ‘sepi’ seperti patung Rimau (maskot PON XVI SumSel dulu),

  2. membangun bangunan penunjang seperti gazibu bergaya arsitektur tradisional Palembang,

  3. membangun tempat-tempat duduk disekitas BKB sehingga warga tidak hanya duduk-duduk pagar tepian Musi,

  4. membangun taman-taman kecil yang bisa diintegrasikan dengan tempat duduk sehingga BKB terkesan nyaman,

  5. membuat amenitis (unsur pelengkap) seperti lampu-lampu taman dengan konsep arsitektur tradisional Palembang (memang yang sekarang sudah ada dan bagus tapi perlu ditambah lagi terutama di tengan lapangan BKB),

  6. menambah public facilities seperti tempat sampah dan toilet umum,

  7. membangun tempat-tempat berjualan bagi PKL dan pusat souvenir khas Palembang yang mungkin bisa dengan tenda atau bangunan permanen yang mengusung tema tradisional Palembang,

  8. membangun dermaga-dermaga kecil tambahan (sepanjang pengamatan hanya ada 1 dermaga yang cukup menarik konsep bangunannya di BKB) beserta perahu-perahu tradisional guna menunjang konsep wisata bahari Sungai Musi dan sebagai jalur ke Pulo Kemaro,

  9. merevitalisasi kawasan kota lama yang ada disekitar BKB sehingga historis Palembang tidak hilang,

  10. menata kembali angkutan umum yang melintas di BKB dan sekitarnya terutama di terminal Ampera yang agak semerawut serta penataan jalur pergerakan kendaraan di kawasan BKB dan penataan kawasan parkir BKB,

  11. membuat paket wisata mengunjungi objek-objek wisata di sekita BKB termasuk ke Pulo Kemaro dan menyediakan kendaraan wisata (disarankan kendaraan tidak bermotor, dapat berupa becak atau yang lain) serta tour guide yang akan menjelaskan historis dari objek-objek wisata tersebut,

  12. mengadakan beberapa acara seperti pameran, konser musik, atau sebagainya yang dapat menghidupkan suasana BKB,

  13. yang terakhir adalah perawatan dari semua pihak sehingga kawasan BKB tetap asri dan nyaman untuk dikunjungi.

Mungkin ini hanya sedikit kisah tentang kawasan BKB. Walaupun aku merasa masih jauh dari ekspektasi aku selama ini, tapi aku tetap bangga dengan Pemkot Palembang yang telah memperhatikan kawasan bersejarah di Palembang dan merevitalisasikannya menjadi kawasan wisata dengan konsep yang baik. Saran-saran yang diberikan diatas hanyalah ide pribadi penulis. Mungkin saja bisa dipertimbangkan demi memperbaiki kawasan BKB yang telah ada sekarang sehingga sesuai dengan konsep yang diharapkan. Semoga itikad baik pemerintah ini berlangsung secara kontinyu dan diperluas dengan merevitalisasi kawasan historis lainnya di Palembang terutama kawasan kota tua yang aku rasa belum diperhatikan. Dengan cara ini Palembang akan menjadi salah satu tujuan wisata yang diperhatikan di Indonesia nantinya. Semoga saja.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.