Kembali Pulang Palembang #1 Pedestrian

Setelah hampir 2 tahun tak sempat balik ke kota palembang, akhirnya aku ada kesempatan untuk balik ke palembang lagi. Sebagai seorang lulusan perencana kota, hal pertama yang dilihat ketika mengunjungi suatu kota adalah wajah penataan ruang kota tersebut. Dan hal yang paling mudah dilihat dalam waktu relatif singkat adalah fisik kota. Inilah yang akan aku coba bahas tentang kota palembang dalam rentang waktu 2 tahun terakhir. Mungkin ga’ bisa menjelaskan dengan sebenarnya tapi setidaknya bisa mewakili orang-orang yang ingin tahu tentang kota Palembang.

Setelah dua hari menyusuri beberapa jalan protokol dan daerah-daerah di Palembang, tidak ada satu pun hal yang membuat aku tertarik untuk mengunjunginya. Memang ada beberapa lokasi yang belum sempat aku kunjungi seperti BKB (Benteng Kuto Besak) maupun kawasan Kambang Iwak (yang katanya menjadi taman kota), tapi itu telah dibangun sejak 2 tahun yang lalu. Dalam kurun waktu 2 tahun ini aku melihat tidak ada pembangunan fasilitas maupun taman kota yang baru. Ya paling cuma Bandara Sultan Mahmud Badarudin II yang sudah menjadi bandara internasional serta pembangunan fly over di depan Polda Sumsel. Selebihnya tidak ada.

Jika ingin ditelaah lebih jauh, masih banyak kekurangan yang terjadi. Ambil contoh masalah pedestrian dan taman kota. Aku sama sekali ga’ merasa nyaman jalan kaki di Palembang (atau mungkin dibeberapa kota-kota lainnya). Selain memang cuacanya yang sangat panas, Palembang juga ga’ menyediakan pedestrian yang layak. Dari bandara di sepanjang Jl. Burlian sampai Bumi Perkemahan Cadika ada trotoar yang cukup lebar, namun pembangunannya dirasa kurang tepat karena disitu bukan kawasan perekonomian layaknya Jl. Sudirman atau Jl. Kol. Atmo atau jalan ke arah Palembang Square. Di jalan protokol seperti Jl. Sudirman dan Jl. Kol Atmo pun pedestriannya sama dengan kota lain yang sempat aku singgahi dalam waktu lama. Memang cukup lebar namun itu berada di depan pertokoan dan masih harus berbagi dengan PKL. Begitupun dengan disepanjang jalan menuju Palembang Square (PS). Jika kita berjalan disebelah kiri (sepanjang jalan yang dekat dengan GOR lama) tidak ada pedestrian sama sekali padahal dulunya ada. Dan kalo kita nyebrang (disepanjang jalan depan hotel horison) baru ada pedestrian yang cukup nyaman, namun lagi2 harus berbagi dengan pepohonan. Pedestrian yang aku rasa cukup baik adalah pedestrian disepanjang jalan A. Rivai mulai dari simpang charitas menuju kantor gubernur sampai simpang empat ke arah PS atau pedestrian di sepanjang jalan Radial. Pedestriannya cukup lebar tanpa terhalang banyak PKL. Ya walau masih belum nyaman.

Berbicara mengenai masalah kenyaman berjalan kaki, tampaknya pemerintah Kota Palembang aku rasa salah dalam memperhitungkannya. Dengan cuaca dan sinar matahari yang begitu menyengat, tanaman dan pohon yang berada di sepanjang pedestrian yang ada di Palembang bukanlah pohon yang bertipe peneduh. Kalo aku ga’ salah yang ditanam adalah pohon dari jenis palem-paleman. Kita tahu bahwa pohon tipe ini bukanlah pohon tipe peneduh. Ada satu ide yang cukup menarik (ya mungkin memakan biaya besar) yang aku dapat dari Jogja. Daripada menaman pepohonan seperti itu mengapa tidak membuat kanopi saja disepanjang pedestrian yang nantinya bisa ditanamin tanaman merambat. Model kanopi seperti ini kalo tidak salah juga banyak diterapkan dinegara-negara maju. Kalopun ingin menanam pohon seperti jenis palem-paleman bisa disiasati dengan menanamnya didevider atau pembatas ruas jalan di jalan-jalan protokol yang diselingi dengan tanaman jenis bunga-bungaan sehingga menjadi taman kota. Konsep seperti devider yang berada di sepanjang Jl. A. Rivai dengan devider taman berbentuk badan naga sangat menarik apalagi jika dikombinasi dengan bentuk yang menunjukan kekhasan Palembang dan dihiasi dengan lampu warna-warni saat malam tentu akan menambah menarik wajah kota Palembang.

Sebenarnya masih banyak yang bisa dibahas tentang kota Palembang terutama masalah fisik ruang kota Palembang. Nantikan saja cerita selanjutnya. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan kota Palembang, tapi hanya sebagai curahan dari orang yang pernah tinggal dan menjadi warga Palembang selama 18 tahun. Semoga tulisan ini dapat memberi masukan kepada stakeholder di Kota Palembang agar Palembang lebih maju dan menjadi tujuan wisata baik domestik maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.