Sebuah Catatan Tentang Pemilu 2009

 

Pemilu legislatif 9 April telah dilaksanakan. Pelaksanaan pemilu sendiri diklaim oleh KPU dan pemerintah berjalan dengan sukses dan lancar. Masyarakat sendiri terlihat antusias untuk mengikuti pemilihan. Namun dibalik itu masih terdapat kekurangan dan permasalahan dari pelaksanaan pemilu kali ini. Saya mencoba untuk menguraikan beberapa kekurangan dan permasalahan dari pelaksanaan pemilu 2009 berdasarkan pengamatan di TPS tempat saya memilih serta dari tayangan berita di televisi.

Beberapa kekurangan dan permasalahan dari pelaksanaan pemilu 9 April yang saya tangkap antara lain:

Kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT). DPT merupakan hal yang paling disoroti pada pemilu kali ini. Banyak warga yang tidak terdaftar pada DPT, padahal mereka mempunyai keinginan untuk menyalurkan haknya untuk memilih. Sedangkan disisi lain banyak warga yang tercantum ganda dalam DPT, bahkan ada warga dibawah umur yang masuk dalam DPT. Dilingkungan TPS saya ada warga yang terdaftar ganda, ada warga yang sudah tidak tinggal dilingkungan saya sejak lam masih terdaftar, dan ada warga yang tidak terdaftar seperti adik kandung saya sendiri. Bahkan keluarga teman saya tidak ada yang terdaftar di DPT padahal mereka adalah penduduk asli di lingkungannya.

Kurangnya sosialisasi tentang mutasi pemilih. Pemilih sebenarnya bisa memilih tidak didaerah tempat ia terdaftar asalkan ia melakukan mutasi. Nah yang menjadi masalah adalah para pemilih tidak mengetahui hal tsb. Kalaupun tahu, mereka tidak mempunyai cukup waktu untuk mengurusnya. Hal ini jelas mengambil hak masyarakat untuk memilih. Dikota-kota yang memiliki universitas terkemuka seperti jogja, bandung, jakarta, dan kota-kota lainnya banyak mahasiswa yang kehilangan hak pilihnya. Di Jogja sendiri lebih dari seribu mahasiswa kehilangan hak pilihnya termasuk ratusan warga dan mahasiswa papua yang sempat memprotes hilangnya hak pilih mereka.

Kualitas tinta sidik jari yang kurang baik. KPU mengklaim bahwa tinta itu bisa bertahan selama 3 hari. Namun apa yang terjadi? Ketika habis mencontreng, saya bermaksud untuk membuktikannya. Ketika pulang (dan hanya selisih 5 menit sesudah mencontreng), saya mencuci kelingking saya tempat tinta sidik jari dengan sedikit sabun. Apa yang terjadi? Ternyata tinta itu hilang seketika dengan digosok sedikit. Jika memang tinta itu berkualitas seperti yang diklaim, seharusnya tidak hilang. Jika yang saya lakukan ini dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, maka akan banyak pemilih siluman yang mencontreng 2x. Tinta pemilu yang dipakai jika mau saya bandingkan setara dengan tinta isi ulang printer yang harganya tidak lebih dari Rp 25.000,00/100ml, bahkan tinta printer ini lebih susah dihilangkan walau disabun berkali-kali.

Lamanya proses penyontrengan dibilik suara. Menurut pengamatan saya di TPS tempat saya memilih, rata-rata pemilih memerlukan waktu antara 7-10 menit untuk menyontreng. Hal ini dikarenakan banyaknya parpol yang berpartisipasi yang membuat pemilih kesulitan untuk mencari parpol dan caleg yang akan mereka contreng di kertas suara. Besarnya ukuran kertas suara juga membuat pemilih kesulitan untuk melipatnya kembali ketika habis menyontreng. Pemilih juga ada yang baru mementukan pilihannya saat di TPS sehingga membuat mereka mencari-cari parpol dan caleg ketika di bilik suara.

Kacaunya distribusi surat suara, baik itu terlambat sampai maupun tertukar dengan daerah lain. Dibeberapa wilayah banyak terjadi kertas suara yang tertukar atau belum sampai ke TPS saat pemilihan dilakukan. Hal ini jelas menghambat proses pencontrengan pada hari H yang tentu saja menghambat proses perhitungan suara. Dibeberapa TPS bahkan dilakukan pemilihan ulang karena masalah ini.

Permasalahan-permasalahan lainnya seperti dugaan money politic, serangan fajar, dugaan penggelembungan suara, dan lainnya

 

Menantikan Wakil Rakyat Sejati

Hasil resmi siapa pemenang pemilu kali ini masih membutuhkan waktu. Namun dari berbagai lembaga survei yang melakukan quick count, partai Demokrat didaulat oleh semua hasil quick count menjadi pemenang. Partai lain yang masuk jajaran TOP TEN versi quick count adalah Golkar, PDIP, PKS, PAN, PKB, PPP, PBB, termasuk 2 partai baru Gerindra dan Hanura. Sementara menurut hasil sementara real count KPU sampai tulisan ini dibuat juga menempatkan Partai Demokrat diurutan teratas diikuti partai-partai lain yang sama dengan hasil qiuck count (hanya berbeda persentase hasilnya). Untuk partai yang akan lolos parlementary threshold diperkirakan hanya akan ada 9-15 parpol (atau mungkin hanya 10 parpol). Kita nantikan saja siapa yang akan menang.

Semoga saja wakil-wakil rakyat yang nantinya terpilih tidak akan mengalami penyakit lupa akan janji-janjinya semasa kampanye. Semoga DPR dan negara ini menjadi lebih baik dan lebih maju. Untuk kekurangan dan permasalahan yang terjadi harus segera diperbaiki sebelum pemilihan presiden bulan juli terutama masalah DPT yang masih kacau balau agar hal-hal ini tidak terjadi lagi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s