Politik Omong Kosong!!!!!
Pemilu legislatif tinggal menghitung hari. Mulai hari ini -6 April 2009- kita telah memasuki masa tenang. Tidak ada lagi hingar bingar kampanye. Tidak ada lagi teriakan janji dari juru kampanye dengan semangat empat lima nya. Pun tidak ada lagi hiburan artis ibukota hingga penyanyi dangdut dengan goyang erotisnya. Kini saatnya masyarakat, terutama yang belum menentukan pilihan, untuk menganalisis kerealistisan dari janji-janji saat kampanye. Semua itu digunakan untuk menentukan pilihan di bilik suara nantinya.
Kampanye merupakan ajang tebar pesona. Berbagai macam janji diucapkan dengan mulut manis yang untuk menarik simpati. Tapi seberapa realistiskah janji manis itu? Atau ini semua hanya omong kosong belaka? Kita dengan ada yang mengklaim partainya berhasil mengurangi kemiskinan, meningkatkan mutu pendidikan dengan anggaran 20% dari APBN, dan klaim kesuksesan lainnya. Tapi tidak sadarkah itu hasil dari kerja keras bersama. Ada pula yang bilang berhasil swasembada beras. Tapi kenapa mereka tidak berterima kasih dengan petani yang telah bersusah payah melakukan itu semua, malah petani yang harus berterima kasih kepada mereka. Ada juga yang membandingkan harga BBM pada masanya dengan sekarang. Tidak taukah mereka cara menghitung harga BBM dengan berbagai macam variabelnya.
Lalu ada yang mengaku menjadi satu-satunya partai yang berani melakukan kontrak politik. Tapi tidak sadarkah anda sebagai pemilih bahwa itu hanya akal-akalan karena kita pun nanti tidak bisa menuntut apa-apa, sebab kontrak itu hanya intern partai dan disimpan oleh petinggi partai serta tidak disaksikan oleh pejabat yang berwenang, seperti notaris, sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum. Ada juga partai yang akan menanam lahan pertanian 7 juta Ha. Tapi tidak sadarkah bahwa telah banyak lahan pertanian yang telah berubah menjadi perumahan, lalu dimana padi itu akan ditanam? Banyak partai yang menjanjikan akan membuka lapangan pekerjaan, bahkan ada yang berani mengatakan akan membuka 42 juta pekerjaan baru. Jika diasumsikanpertanian yang telah berubah menjadi perumahan, lalu dimana padi itu akan ditanam? Banyak partai yang menjanjikan akan membuka lapangan pekerjaan, bahkan ada yang berani mengatakan akan membuka 42 juta pekerjaan baru. Jika diasumsikan 1 pekerjaan bisa memperkerjakan 10 orang, maka akan terserap 420 juta pengangguran. Itu angka yang fantastis karena jumlah penduduk Indonesia saja tidak sampai sebanyak itu. Ini berarti semua orang tidak akan menganggur. Tapi mungkinkah? Janji yang lain pun menyatakan akan memberi dana Rp 1 Milyar/desa/tahun agar desa bisa maju. Tidak tahukah mereka jumlah desa yang ada di negeri ini. Lalu uang siapa yang akan dipakai untuk itu semua. Apa kita harus utang lagi untuk mewujudkan janji itu.
Pada panggung kampanye pun politisi menunjukkan wajah aslinya. Beberapa partai, atau mungkin hampir semua, menyewa alias membayar orang untuk ikut berkampanye. Jadi wajar banyak anggota dewan, yang katanya terhormat, mau dibayar. Ada pula caleg yang ikut bergoyang bersama penyanyi dangdut yang menari erotis. Inikah yang menyebabkan banyak anggota dewan yang tergiur ketika ditawarkan gadis cantik untuk memuluskan proyek. Sungguh memalukan. Ada juga yang saat kampanye mengatakan kebijakan pemerintah yang tidak mendidik dan merendahkan masyarakat. Tapi ia malah membuat iklan yang mengatakan partainya berhasil mengawasi kebijakan pemerintah tersebut agar tepat sasaran. Sungguh bermuka dua.
Sudah saatnya parpol memberikan janji-janji yang membumi dan realistis. Masyarakat sudah MUAK dengan semua omong kosong dan janji-janji surga. Sekali lagi masyarakat MUAK ditipu janji manis tanpa realisasi. Masyarakat sekarang sudah lebih pintar dan tidak bisa dibohongi lagi. Jika boleh meminjam tagline salah satu iklan rokok. Kini saatnya para anggota dewan yang terhormat untuk, TALK LESS, DO MORE.
















Pesan & Kesan