Ketika Masyarakat Ingin Sembuh
Sudah hampir 1 bulan ini kita kembali dibuat tertarik pada sebuah kejadian yang heboh sekaligus mengharukan. kejadian itu berasal dari Jombang. ya sudah sekitar 1 minggu ini di televisi mata kita sering tertuju ke rumah seorang warga di Jombang. pemilik rumah tersebut adalah keluarga Ponari. sebenarnya tidak ada yang ‘istimewa’ pada keluarga ini sebelum anak mereka, ponari, mendapatkan sebuah ‘batu sakti’. ya batu itulah yang mengubah semuanya. batu itu dipercaya dapat menyembuhkan semua penyakit. setelah mendengar kabar tersebut banyak masyarakat yang berduyun-duyun datang ke rumah ponari yang oleh masyarakat dinobatkan menjadi dukun cilik.
Ada yang unik mengenai pengobatan batu ajaib ala Ponari ini. ya Ponari hanya perlu mencelupkan batu ke dalam air dan pasien tinggal meminum air tersebut maka penyakitnya akan sembuh. batu ajaib itu sendiri menurut pengakuan Ponari didapat saat ia sedang bermain hujan dan tiba2 ia kejatuhan batu tersebut. awalnya Ponari hanya mencoba mengobati tetangganya yang sakit dengan mencelupkan batu tersebut ke segelas air dan air itu diminum tetangganya dan ternyata penyakitnya sembuh. berita itu pun menyebar dan membuat Ponari menjadi terkenal sebagai dukun cilik. setiap hari rumah Ponari didatangi ribuan warga yang ingin berobat. mereka tidak hanya berasal dari Jombang tapi juga dari kota-kota lain seperti malang dan surabaya. mereka bahkan rela menginap disekitar rumah Ponari hanya untuk mendapat pengobatan dari sang dukun. tetapi yang memprihatinkan adalah jatuhnya korban jiwa dalam rangka mendapatkan kesembuhan dari sang dukun cilik. jumlah korban itu pun sebanyak 4 orang dikarenakan berdesak-desakan saat mengantri. sungguh hal yang patut di sayangkan.
selain keajaiban batu tersebut sebenarnya ada beberapa hal lagi yang menjadi perhatian dari peristiwa ini. yang pertama adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan pemerintah. fenomena batu ajaib Ponari atau beberapa pengobatan alternatif yang ‘belum bisa dipertanggungjawabkan’ merupakan dampak dari ‘keputus asaan’ masyarakat akan pelayanan kesehatan yang dilakukan pemerintah. masyarakat tidak mampu untuk mengakses layanan kesehatan sehingga mereka beralih ke ‘pengobatan alternatif’ (saya tidak menjelek-jelekkan pengobatan alternatif karena juga ada banyak pengobatan alternatif yang bisa dipertanggungjawabkan dan memang terbukti bisa menyembuhkan penyakit). memang pemerintah telah mengeluarkan beberapa fasilitas seperti Jamkesos, Jamkesmas, Kartu Gakin untuk berobat, dan banyak istilah2 lain yang di pakai pemerintah sebagai bentuk tanggung jawab untuk memberikan akses ke masyarakat miskin. namun bagaimana implementasi di lapangan dari program2 tersebut??? sudah bukan rahasia lagi kalo ternyata masyarakat miskin ‘sulit’ untuk mengakses program2 jaminan kesehatan tersebut. banyak instansi yang harus didatangi sebelum bisa mengakses program tersebut. bahkan ketika sudah membawa surat keterangan miskin masih saja ‘dipersulit’ ketika di rumah sakit dan yang terjadi banyak dari masyarakat miskin tersebut tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal bahkan ada yang sampai meninggal dunia. semua program jaminan kesehatan bagi rakyat miskin itu memang baik namun sebaiknya pemerintah memperbaiki implementasi dari program tersebut di lapangan.
hal kedua yang perlu mendapat perhatian adalah tentang ‘eksploitasi’ anak dan memperkejakan anak di bawah umur. hal ini baru-baru saja disadari dan ditindak lanjuti oleh Komisi Perlindungan Anak (KPA) dan Komnas Anak. ya jika kita melihat tayangan di televisi bagaimana ramainya rumah Ponari setiap harinya. dan setiap hari juga Ponari harus melayani semua pasien tersebut. tidak ada waktu luang bagi Ponari untuk menikmati masa kanak-kanaknya bahkan untuk sekolah dan bermain. hal inilah yang dikritisi oleh Komnas Anak dan KPA. dilain sisi juga tampaknya telah terjadi eksploitasi terhadap Ponari. dari praktek dukun ini, warga disekitar rumah Ponari mendapatkan pemasukan yang luar biasa besar. untuk mengantri saja ditarik iuran minimal 5000 rupiah. bayangkan berapa yang didapat warga selama ini. menurut berita ditelevisi warga bisa mendapat pemasukan sebesar puluhan juta rupiah dari praktek Ponari ini. berita terakhir, bapak Ponari dikabarkan dianiaya karena menyetujui penutupan praktek Ponari (memang berita ini belum bisa diketahui kebenarannya). namun yang bisa disimpulkan bahwa Ponari mungkin telah dieksploitasi dan ‘dirampas’ hak-haknya sebagai anak-anak.
hal ketiga adalah kemungkinan terjadinya penyimpangan aqidah dari masyarakat. ya, seperti yang kita lihat bahwa pengobatan ini hanya menggunakan sebuah batu. sebenarnya tidak ada permasalahan ketika kita tetap meyakini bahwa Allah lah yang menyembuhkan dan batu tersebut hanya sebagai perantara. seperti yang kita yakini bahwa Allah dapat menyembuhkan orang dengan berbagai macam cara. namun yang dikhawatirkan adalah masyakarat akan men’dewa-dewa’kan batu tersebut. hal ini akan membawa kepada perbuatan syirik yang merupakan dosa terbesar. dan dari berita terakhir masyarakat sejak penutupan praktek ini bahkan sampai mengambil tanah di sekitar rumah Ponari dan air disaluran pembuangan dari rumah Ponari yang mereka yakini memiliki khasiat yang sama dengan batu ajaib tersebut. sungguh hal yang memprihatinkan kita semua.
memang praktek ini telah ditutup selamanya. namun masih banyak warga yang masih datang dan mengharapkan praktek Ponari akan dibuka lagi. sesunguhnya hal ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua orang terutama pemerintah untuk mengadakan layanan kesehatan bagi masyarakat miskin.
















Pesan & Kesan