Oleh-Oleh Dari Semarang
Dua hari berkelana di Semarang aq dapet banyak pandangan baru tentang perbedaan pembangunan kota di beberapa daerah… kalo selama ini kota yang sering aq lihat cuma jogja dan palembang, skrang ada pembandingnya dengan semarang… banyak perbedaan yang dapat aq lihat mulai dari penataan pedestrian, PKL, sampai ke landmark kota…
Jika d Jogja memiliki Malioboro serta Palembang dengan Kawasan Jembatan Ampera sebagai daya tarik sekaligus landmark kota, maka Semarang punya Kawasan Simpang Lima…. memang terdapat perbedaan karakteristik diantara ketiga lokasi tersebut tapi yang ingin disoroti disini adalah mengenai penataan kawasannya bukan kepada karakteristik kawasannya….
Malioboro sebagai ‘ikon’ Jogja yang juga sebagai kawasan wisata belanja telah dikenal sampai ke mancanegara memang telah diupayakan untuk serapi dan seindah mungkin, namun yang disayangkan adalah kurangnya tempat untuk pejalan kaki. pedestrian di Malioboro yg seharusnya digunakan sebagai tempat berjalan malah berfungsi sebagai tempat berjualan dan parkir. hal ini memang telah menjadi ‘tren’ di hampir semua kota di Indonesia…. hal ini membuat kenyamanan pengunjung Malioboro menjadi berkurang…. berbeda halnya dengan kawasan simpang lima semarang, pedestrian relatif lebih bebas dari PKL dan parkir…. pengunjung dapat melaluinya dengan leluasa… begitu juga jika saat berjalan ke jalan-jalan utama disekitar simpang lima, relatif tidak ada PKL yg berjualan (pada siang hari)…. pejalan kaki dapat berjalan dengan leluasa dan aman… namun ada satu perintang di pedestrian kawasan simpang lima (juga di kota-kota lainnya), pot-pot taman kota mengambil sebagian besar lahan pedestrian,,, baik itu untuk tanaman hias maupun pohon perindang… hal ini membuat keluasaan pejalan kaki menjadi sedikit berkurang…… kawasan Jembatan Ampera Palembang relatif tidak jauh berbeda dengan di Semarang… pedestrian memang relatif lebih bebas PKL (saat ini) sehingga pejalan kaki dapat berjalan dengan leluasa.. pun demikian dengan pedestrian di jalan2 utama lainnya yang juga relatif bersih PKL….. namun luasan lahan untuk pejalan kaki di Palembang pun setali tiga uang dengan Semarang,,, pot-pot taman kota masih mendominasi lahan yang seharusnya untuk pejalan kaki…. lalu siapakah yang harus mengalah untuk hal ini?????
















sering-sering maen ke semarang ya…
Januari 3, 2009 pada 12:05 pm
OK
Januari 5, 2009 pada 3:39 am